Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example 728x250
BeritaNewsPendidikan

Art Fest SMP Swasta Bintang Timur Pematangsiantar : Ketika Seni Menjadi Bahasa Kasih dan Persatuan

11
×

Art Fest SMP Swasta Bintang Timur Pematangsiantar : Ketika Seni Menjadi Bahasa Kasih dan Persatuan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Moranews Pematangsiantar — Aula SMP Bintang Timur Pematangsiantar berubah menjadi ruang penuh cerita pada Sabtu (31/10/2026) malam. Lewat alunan musik, gerak tari, dan seni teater, para siswa mengajak penonton menyelami beragam kisah tentang kehidupan, mulai dari kekayaan budaya Nusantara, perjuangan para pahlawan, hingga persoalan perundungan dan pentingnya menerima perbedaan.

Pertunjukan bertajuk Art Fest SMP Bintang Timur itu mengangkat tema “Satu Panggung, Seribu Ekspresi, Satu Harmoni Kasih, Jadikan Dunia Lebih Layak Dihuni.” Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut dihadiri sekitar 2.000 orang, termasuk siswa, orang tua, masyarakat sekitar, dan tamu undangan.

Example 300x600

Sejumlah pejabat dan tokoh turut menyaksikan kegiatan itu, di antaranya Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Febry Pakpahan, M.Si.; Lurah Toba Edy Johanes Barus, S.H.; perwakilan komite sekolah Ramses Tambunan; serta Ketua Yayasan Santo Laurensius Suster Nikasya Sinaga bersama jajaran pengurus yayasan dan para suster KYM.

Seni yang Merawat Ingatan dan Kebersamaan

Malam kesenian tersebut dibuka dengan doa, kemudian dilanjutkan penampilan St. Cecilia Choir. Melalui perpaduan lagu rohani, lagu daerah, dan musik populer, kelompok paduan suara ini menghadirkan beragam suasana dan pengalaman manusia.

Sejumlah lagu yang dibawakan antara lain Panis Angelicus, Janger, Lissoi, Lilin-Lilin Kecil, Gala Bunga Matahari, Payung Fantasi, Marilah ke Mari, Run to You, dan Time to Say Goodbye.

Pergantian lagu membawa penonton memasuki suasana yang berbeda. Ada nuansa religius, semangat kebersamaan, kegembiraan, hingga perenungan tentang waktu dan perpisahan. Melalui suara yang berpadu, para siswa menunjukkan bahwa musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan perasaan yang terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Nuansa keberagaman kemudian berlanjut melalui penampilan kelompok Bintang Tari. Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian ialah Tari 6 Puak Tortor Batak Sumatera Utara. Karya ini memperkenalkan kekayaan budaya Simalungun, Toba, Mandailing, Angkola, Karo, dan Pakpak dalam satu rangkaian pertunjukan.

Keenam puak tersebut tampil sebagai bagian dari kekayaan budaya Sumatera Utara yang memiliki keunikan masing-masing. Perbedaan tradisi dan ekspresi budaya justru menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan persaudaraan.

Pesan serupa hadir dalam Horas Marharoan dan Doding Hangoluon. Melalui gerak dan iringan pertunjukan, para penari menggambarkan kehidupan masyarakat Simalungun yang menjunjung tinggi semangat gotong royong, baik ketika menyambut hasil panen maupun saat menghadapi kesedihan.

Dalam kehidupan masyarakat, kebersamaan tidak hanya terlihat ketika orang berbagi kebahagiaan. Dukungan juga dibutuhkan ketika sebuah keluarga kehilangan orang yang dicintai. Nilai tersebut diperkuat melalui pertunjukan Tortor Huda-Huda, yang menggambarkan kehadiran keluarga dan masyarakat dalam memberikan penghiburan serta penghormatan terakhir.

Sementara itu, Warisan Nilai-Nilai Dalihan Na Tolu membawa penonton pada kisah sebuah keluarga yang harus menghadapi kepergian seorang ayah untuk berperang. Istri dan anak yang ditinggalkan menjalani masa sulit, tetapi mereka tidak sepenuhnya sendiri karena masyarakat hadir memberikan dukungan.

Kisah tersebut menegaskan bahwa nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap sesama bukan sekadar warisan tradisi, melainkan pedoman yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini.

Dari Panggung, Siswa Menyuarakan Persoalan Kehidupan

Art Fest tidak hanya menjadi tempat untuk merayakan seni dan budaya. Para siswa juga memanfaatkan panggung sebagai sarana menyampaikan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui tarian Topeng di Sekolah, penonton diajak melihat kenyataan bahwa senyuman seorang anak tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Tekanan belajar, pengalaman perundungan, kesepian, dan persoalan keluarga dapat menjadi beban yang tidak mudah diceritakan kepada orang lain.

Pertunjukan ini mengingatkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri. Kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi perlu hadir dalam tindakan nyata, termasuk kesediaan mendengarkan dan memahami keadaan orang lain.

Pesan penerimaan juga disampaikan melalui One Beat – Satu Irama, Satu Rasa. Kisahnya berangkat dari pengalaman seseorang yang dijauhi karena dianggap berbeda. Namun, seiring berjalannya cerita, teman-temannya mulai menyadari bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengucilkan seseorang.

Pada akhirnya, mereka memilih untuk menerima dan bergerak bersama. Melalui pertunjukan tersebut, para siswa menyampaikan pesan bahwa persahabatan tumbuh ketika setiap orang memperoleh kesempatan untuk diterima sebagai dirinya sendiri.

Semangat persatuan kemudian diperluas melalui Simfoni Nusantara. Karya ini menghadirkan keberagaman budaya Indonesia sebagai kekayaan yang dapat menyatukan masyarakat. Di tengah perbedaan latar belakang dan tradisi, setiap orang tetap memiliki ruang untuk berkontribusi membangun kehidupan bersama.

Mengenang Perjuangan Melalui Seni Teater

Setelah rangkaian tari berakhir, panggung beralih menjadi ruang penceritaan sejarah. Tim teater SMP Bintang Timur membawakan kisah Raja Sisingamangaraja XII, tokoh dari Tanah Batak yang dikenal dalam perjuangan melawan penjajahan.

Melalui seni peran, para siswa berupaya membawa sejarah lebih dekat kepada penonton. Tokoh dan peristiwa masa lalu tidak hanya diperkenalkan sebagai bagian dari pelajaran, tetapi juga dihadirkan melalui ekspresi, dialog, dan penghayatan karakter.

Pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa mengenal sejarah berarti memahami nilai perjuangan, keberanian, dan pengorbanan yang membentuk perjalanan suatu bangsa.

Bagi para siswa, keterlibatan dalam teater juga menjadi kesempatan untuk belajar bekerja sama, membangun kepercayaan diri, dan bertanggung jawab terhadap peran yang dipercayakan kepada mereka.

Salah seorang orang tua siswa mengapresiasi kesempatan yang diberikan sekolah kepada anak-anak untuk tampil di hadapan publik.

Menurutnya, kegiatan semacam itu tidak hanya memperlihatkan kemampuan siswa dalam bidang seni, tetapi juga membantu mereka mengenal budaya, memahami sejarah, serta belajar tentang persahabatan dan kepedulian.

Ia berharap Art Fest dapat terus diselenggarakan sebagai ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan menunjukkan hasil proses belajar mereka.

Apresiasi untuk Karya dan Kerja Bersama

Sebagai penutup, sekolah memberikan apresiasi kepada para siswa yang terlibat dalam tiga bidang pertunjukan utama, yakni tari, paduan suara, dan teater. Masing-masing tim menerima penghargaan berupa uang sebesar Rp5 juta.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas usaha, latihan, kedisiplinan, dan kerja sama yang telah dibangun para siswa dalam mempersiapkan pertunjukan.

Lebih dari sekadar perhelatan seni, Art Fest SMP Bintang Timur memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat berlangsung melalui pengalaman yang nyata. Siswa tidak hanya belajar menghasilkan karya, tetapi juga berlatih menghargai perbedaan, memahami pengalaman orang lain, merawat kebudayaan, dan menyampaikan gagasan melalui kreativitas.

Di atas panggung, mereka tampil dengan ekspresi yang beragam. Namun, seluruh pertunjukan bertemu pada satu pesan: kehidupan akan menjadi lebih baik ketika manusia bersedia saling menghormati, menerima perbedaan, dan menghadirkan kasih dalam tindakan sehari-hari.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *